
Tulisan berikut diambil dari artikel berjudul "Founder Of Aikido" karya Doshu Kisshomaru Ueshiba yang dipublikasikan secara berseri dalam aiki news edisi 30 (bulan August 1978) sampai edisi 71 (bulan Juni 1986). Tercatat terdapat 42 seri tulisan mengenai kehidupan keseharian sang pendiri Aikido, Morihei Ueshiba. Dan berikut adalah beberapa nukilan kisah hidup sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk beladiri tersebut.
Bagi seseorang seperti O-sensei, tidak ada hari yang berlalu tanpa latihan. Mulai dari bangun tidur pada pukul lima dini hari hingga beristirahat lagi pukul sembilan malam, O-sensesi selalu menempatkan dirinya secara fisik dan mental di dojo.
Di dalam dojo, O-sensei mengisi kegiatan dengan mengawasi dan melatih para muridnya. Beliau tidak pernah lelah mengajari murid-muridnya bahkan pada murid pemula sekalipun. Kadang di dojo itu juga, beliau mengumpulkan masyarakat dan kemudian mengadakan semacam seminar membahas tentang konsep aiki.
O-sensei memiliki murid-murid yang tersebar di seluruh Jepang. Maka bukan suatu hal yang aneh jika akhirnya beliau sering mengadakan perjalanan untuk memenuhi undangan mengajar dan mengisi seminar beladiri. Meski disibukkan dengan banyak acara, tapi pikiran beliau selalu tertambat di dojo. Bahkan seringkali lawatan beliau ke berbagai wilayah itu menghasilkan metode-metode mengajar yang baru. Beliau percaya bahwa satu hari saja terlewatkan tanpa latihan merupakan sebuah kemunduran, dan menerapkan disiplin keras seperti ini pada dirinya sendiri.
Sebuah pengalaman menarik yang diceritakan Hideo Takahashi, seorang rekan O-sensei, menggambarkan bagaimana gigihnya semangat beliau dalam mengajarkan aikido. Pada sebuah acara perayaan rampungnya pembangunan dojo bulan November 1967, Takahashi berkesempatan mengunjungi kediaman O-sensei. Kunjungannya itu bertujuan untuk menyerahkan sebuah cindera mata berupa papan besar bertuliskan kalimat-kalimat penghargaan bagi O-sensei.
Untuk menyambut datangnya rekannya itu, O-sensei yang sedang terjerat penyakit kanker lantas bangun dari tempat tidurnya. Beliau terlihat sangat gembira dengan hadiah dari Takahashi, dan obrolan ringan antara kedua rekan itupun segera terjalin dengan akrab.
Beberapa saat kemudian, O-Sensei meminta ijin pada Takahashi, ''Saya harus ke kebelakang dulu.'' O-sensei pun segera beranjak menuju kamar mandi yang berada di sebelah dojo.
Setelah berselang beberapa waktu, O-Sensei belum juga kembali dari kamar mandi. Karena penasaran, Takahashi lantas berusaha mencari tahu keberadaan beliau. Dalam upayanya mencari, di kejauhan samar-samar terdengar suara O-sensei dari dalam dojo. Takahashi pun segera melihat melalui jendela dojo dan tampak O-sensei sedang mengajar muridnya teknik suwari waza dengan semangat. ''Begini cara yang benar,'' kata O-sensei mantap. Takahashi pun terkejut, betapa O-sensei yang semula tergolek lemas di atas tempat tidur, beberapa saat kemudian sudah dengan antusias mengajar murid-muridnya di dojo. ''Benar-benar seperti dua orang yang berbeda,'' kata Takahashi kagum.


